Art Soul. Kadang kita tidak bisa mngungkapkan semua cerita dengan pertemuan. Aku dan aku dengan segala karakterku. Aku tuangkan di sini
Robot-Robot Jama`ah (Sebuah refleksi perjalanan dakwah)
Ketika Kencing Menjadi Barang Mahal
Hentakan Itu Meluluhlantakkan
SAAT JIWA TAKUT TAK DITOLONG ALLOH
Tangis meratapi nasib dan kesedihan mendalam sering dirasakan oleh jiwa jiwa yang dalam hatinya ada ketakutan. Takut terhadap ujian demi ujian yang mungkin akan datang seperti permainan kartu domino, takut terhadap kesedihan yang tak ada ujungnya, ataupun takut karena dia tak melihat secercah cahaya dalam kegelapan hidup. Tangis itu bisa jadi menjadi pertanda kehidupan jiwa yang takut terhadap keniscayaan hidup. Tapi perasaan takut juga bisa menjadi pertanda lemahnya jiwa saat jiwa kering dari kekuatan Alloh.
Seorang mukmin yang mencintai Alloh pastilah seseorang yang dalam jiwanya selalu menyatukan diri dengan kekuatan Alloh. Seyogyanya, tak perlu ada ratapan yang berlebihan maupun tangisan yang dramatis, karena jiwa menginternalisasikan diri dengan Alloh, akan mengkristalkan perasaannya dalam keadaan tenang dan arif. Jika dia mendapatkan kenikmatan maka jiwanya tersenyum dalam syukur, dan jika ditimpa ujian maka jiwanya akan bersabar dan tetap lapang.
Maka tentu kita dapat melihat perbedaan yang amat terasa jika kita merasa bahwa ujian yang sedang kita hadapi, ada secuil perasaan takut, takut jika tak mendapat pertolongan Alloh. Jiwa itu resah, gamang, dan hampir tak bisa tenang.
Jiwa yang takut tak ditolong Alloh bisa terjadi karena adanya perasaan bahwa Alloh akan sulit menolong kita karena kita berada pada taraf keimanan yang lemah. Bisa jadi karena ibadah kita yang mengalami penurunan, maupun karena kita merasa telah banyak melakukan maksiat. Belum lagi amanah amanah yang sering terlalaikan menjadikan jiwa merasa takut dihukum Alloh. Perasaan pesimisme dengan segala prasangka yang menyertainya pada akhirnya menghadirkan ketakutan tak ditolong Alloh, yang biasanya terekspresikan pada kegundahan hati, tangisan tak berujung, maupun kegamangan hidup. Padahal janji Alloh amatlah tepat pada setiap makhlukNya, bahwa jika kita bertanya dimanakah Alloh, maka sesunggunhya Alloh itu dekat. Jika ada yang meminta pertolongan pada Alloh dengan berjalan, maka Alloh akan menghampirinya dengan berlari. Barangsiapa yang meolong agama Alloh, maka Alloh akan menolong dan meneguhkan kedudukanNya di dunia.
Lalu bagaimana jiwa bisa merasa kerdil di hadapan Alloh? Bagaimana bisa jiwa dapat merasakan ketakutan tak ditolong Alloh, padahal janjiNya amat pasti?
Maka pastaslah kita introspeksi diri dengan segala penatnya rutinitas yang menyita peluh dan terkadang mengahadirkan ketakutan ketakutan dalam jiwa….mengapa kita SERING takut tak ditolong Alloh? Tugas kita hanyalah beraml. Maka Lakukanlah yang terbaik yang bisa kita lakukan dan maksimalkan apa yang bisa dilakukan, karena terkadang ujian itu hanya perlu diselesaikan dengan sabar dan lapang dada...
Maka bersabarlah..dan janganlah bersedih…Alloh bersama kita..
Laa tahzan..innalloha ma`ana….
Saguling, Septik Tank Terbesar di Dunia
Waduk Saguling merupakan salah satu waduk kaskade di sungai Citarum. Waduk ini mempunyai luas 5.600 ha yang terletak di wilayah Kabupaten Bandung Barat dan dikelola oleh otorita PT Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan Saguling. Waduk ini mempunyai fungsi utama sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dengan kapasitas 700,72 MW. Ketika terjadi gangguan seperti padam listrik atau kekurangan pasokan listrik di Jawa-Madura-Bali (Black out), PLTA ini hanya membutuhkan waktu sekitar enam menit untuk segera menyambung jaringan listrik tersebut. Kemampuan sinkronisasi yang tinggi ini membuat posisi Saguling cukup vital bagi jaringan interkoneksi listrik se-Jawa Bali.
Tapi dalam perjalanannya, waduk yang terlihat indah ini ternyata menyimpan banyak permasalahan yang sangat pelik, yakni teriindikasikan telah tercemar limbah organik, anorganik dan logam berat.
Waduk Saguling merupakan waduk pertama dari arah hulu sungai Citarum yang dibendung dari kurang lebih 54 anak sungai di aliran sungai Citarum. Akan tetapi, anak anak sungai tersebut telah membawa pencemar dari kawasan industri di wilayah hulu sungai Citarum menuju waduk Saguling. Lebih dari 450 industri yang umumnya berasal dari sentra-sentra industri berbagai skala di wilayah Majalaya, Banjaran, Rancaekek, Dayeuhkolot, Ujung Berung, Cimahi, dan Padalarang telah menyumbang kurang lebih 280 ton limbah kimia anorganik setiap hari ke waduk Saguling. Belum lagi adanya industri penambangan emas di Soreang dan Pengalengan.
Sampah kota Bandung, Cimahi dan Bandung Barat juga turut menambah beban Waduk Saguling. Tak kurang 1 milyar rupiah dana yang digelontorkan oleh otorita pengelola Saguling tiap tahunnya hanya untuk membersihkan sampah yang masuk ke Waduk Saguling. Rendahnya komitmen pelaksanaan pengelolaan lingkungan oleh industri yang menghasilkan limbah ataupun masyarakat yang membuang limbah domestik ke Citarum memberi kontribusi besar pada penurunan kualitas air dan pendangkalan (sedimentasi) sungai tersebut.
Adapun logam berat yang terindikasi masuk ke waduk Saguling antara lain merkuri (Hg), tembaga(Cu), seng (Zn), dan timbal (Pb). Hasil pengujian air oleh peneliti Universitas Padjadjaran Bandung pada tahun 2004 menunjukkan bahwa air Waduk Saguling mengandung logam merkuri (Hg) sebesar 0,236 ppm dari batas aman 0,002 ppm. Pada kondisi tertentu, pernah ditemukan kandungan merkuri (Hg) 30 kali di atas batas normal, yakni 0,06 miligram per liter.
Jika sudah ada cemaran logam berat, ikan yang hidup di dalamnya juga mungkin terkontaminasi melalui rantai makanan. Logam berat akan terakumulasi di tubuh ikan yang akhirnya masuk ke tubuh manusia yang memakannya. Para peneliti dan pakar akademisi telah mengimbau agar masyarakat berhati-hati mengonsumsi ikan air tawar. Hal ini karena akumulasi logam berat di tubuh manusia dalam jangka panjang dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, seperti penyakit minamata, bibir sumbing, kerusakan susunan saraf, dan cacat pada bayi.
Sekarang tidak ada lagi yang membudidayakan ikan mas di Waduk Saguling karena ikan mas sudah tidak bisa bertahan hidup di perairan Saguling. Produksi ikannya pun sudah sangat menurun akibat pencemaran Sungai Citarum. Dari sekian banyak permasalahan yang ada, para pakar menyebut Saguling sebagai septic tank terbesar di dunia atau waduk pelangi, karena warna air limbahnya yang berwarna-warni.
Pencemaran air Citarum juga memicu percepatan sedimentasi waduk. Sampai akhir tahun 2006, sedimentasi yang diakibatkan sampah dan lumpur telah mencapai 80,3 juta meter kubik. Untuk tahun 2007, penghitungan masih dilakukan dan kemungkinan besar angka pendangkalan tersebut bertambah. Saat ini, laju sedimentasi yang mencapai angka 4,2 juta meter kubik per tahun telah melewati ambang batas yang ditetapkan dalam desain PLTA Saguling.
Meningkatnya sedimentasi secara kontinu dan buruknya mutu air akibat berbagai polutan yang meracuni Citarum, mengancam kinerja PLTA yang menjadi andalan pasokan listrik interkoneksi Jawa-Bali tersebut. Jika tidak ada perbaikan, PLTA yang semula dirancang untuk hidup dan menyuplai persediaan energi listrik selama 59 tahun itu hanya akan mampu bertahan selama 45 tahun. Bahkan, jika kondisi terus memburuk, waktu Saguling untuk tutup usia semakin dekat. Mendekatkan Jawa-Madura-Bali pada krisis energi listrik.
Bagaimanapun Citarum adalah pemompa denyut nadi jutaan orang, terutama di Jawa Barat. Airnya menjadi sumber kehidupan manusia sekaligus energi bagi ribuan industri yang menafkahi jutaan orang dan sumber air baku bagi masyarakat hilir di kota Jakarta sekitarnya. Kerusakan pada air sungai Citarum akan memengaruhi kelangsungan hidup semua organisme. Cepat atau lambat.
Sebentar lagi Bandung Barat akan menyelenggarakan pesta demokrasi pemilihan pemimpin barunya. Maka kita sebagai masyarakat intelektual, harus cerdas dalam memilih. Pilihlah pemimpin yang bijak terutama permasalahan lingkungan karena Waduk Saguling merupakan asset daerah yang amat berharga untuk kelangsungan masyarakat, terutama masyarakat Bandung Barat.
Untuk Bandung Barat lebih baik…
Bandung Barat Go Green….