Tampilkan postingan dengan label Waduk Cirata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Waduk Cirata. Tampilkan semua postingan
Selasa, 05 Oktober 2010 0 komentar By: ArtiHapsari

HIPERTROFIKASI WADUK CIRATA

Salah satu permasalahan lingkungan yang terjadi pada Waduk Cirata adalah proses penyuburan perairan pada tahap yang paling akut atau biasa disebut hipertrofikasi. Hipertrofikasi merupakan pengkayaan unsur hara tumbuhan dalam ekosistem perairan pada tahap yang paling tinggi pencemarannya disebabkan terutama oleh senyawa fosfat, nitrogen dan organik. Apabila senyawa tersebut yang berasal dari kegiatan pertanian, aktivitas domestik dan industri masuk ke dalam Waduk Cirata secara kontinyu, maka dapat mempercepat hipertrofikasi di waduk Cirata.

Hipertrofikasi yang dialami oleh Waduk Cirata didasarkan pada dua indikasi utama yaitu struktur komunitas fitoplankton dan variasi kejenuhan (saturasi) kandungan oksigen di permukaan air. Berdasarkan hasil penelitian pada triwulan 2 tahun 2010, secara kuantitatif jumlah jenis plankton secara keseluruhan adalah sebanyak 40 jenis, yang terdiri dari 21 jenis fitoplankton dan 19 jenis zooplankton dengan rata-rata indeks keanekaragaman plankton sebesar 0,58. Tetapi secara kualitatif (struktur komunitas), kelimpahan plankton dapat dikatakan buruk sebab kelimpahan fitoplankton didominasi oleh golongan Cyanophyta, dimana pertumbuhan massal Cyanophyta merupakan indikasi terjadinya hipertrofikasi kultural suatu perairan.
Penyebab Hipertrofikasi Waduk Cirata

Parameter penyebab hipertrofikasi waduk Cirata adalah sebagai berikut:
1. Unsur Hara (Nitrogen)
Unsur hara merupakan senyawa nitrogen yang berasal dari proses pembusukan makhluk hidup yang telah mati akibat dekomposisi protein dan polipeptida yang terdapat pada semua makhluk hidup. Sumber unsur hara yang lain adalah sumber antropogenik (akibat aktivitas manusia), yaitu unsur organik yang berasal dari limbah industri dan limpasan dari daerah pertanian, kegiatan perikanan, dan limbah domestik. Proses terjadinya pengkayaan perairan waduk oleh unsur hara sejatinya berlangsung dalam waktu yang cukup lama, namun proses tersebut dapat dipercepat oleh berbagai aktivitas penduduk di sekitar perairan waduk.

Total Nitrogen di perairan dapat berupa nitrogen anorganik dan organik. Nitrogen juga ditemukan melimpah dalam bentuk gas di atmosfer, namun tidak dapat digunakan secara langsung oleh organisme karena memerlukan energi yang besar untuk memecah ikatan rangkap tiga gas nitrogen.

Perairan waduk Cirata termasuk dalam klasifikasi hipertrofik karena kandungan total N di perairan lebih dari 6,100 mg/l. Dengan kadar nitrogen yang tinggi dalam perairan waduk Cirata yang hipertrofik tersebut dapat merangsang pertumbuhan algae secara tak terkendali (blooming) dan mengakibatkan degradasi perairan.

2. Fosfat
Hipertrofikasi juga disebabkan oleh munculnya nutrien fosfat yang berlebihan ke dalam ekosistem air. Pada umumnya fosfat yang berada di waduk Cirata banyak terdapat dalam bentuk fosfat organik dan anorganik. Sumber utama fosfat anorganik terutama berasal dari penggunaan deterjen, alat pembersih untuk keperluan rumah tangga serta berasal dari industri pupuk pertanian. Sedangkan fosfat organik berasal dari makanan dan buangan rumah tangga. Semua fosfat mengalami proses perubahan biologis menjadi fosfat organik yang selanjutnya digunakan tanaman untuk membuat energi.

Perairan dikatakan hipertrofik jika konsentrasi Total Phosphorus (TP) dalam air berada di atas 0,386 mg/l. Kondisi total pospat di beberapa titik telah berada pada rentang hipertrofik, maka diperlukan pengendalian peningkatan posfat yang mencemari waduk Cirata supaya tidak semakin meningkat kuantitasnya.

3. Organik
Berdasarkan asalnya, limbah organik yang mencemari perairan Waduk Cirata,
dapat dibedakan menjadi limbah organik yang berasal dari luar waduk dan dari kegiatan di badan air Waduk Cirata. Limbah yang berasal dari luar waduk Cirata berupa limbah industri, air lindi TPA Sari Mukti, limbah domestik, dan pertanian, sedangkan yang berasal dari kegiatan di badan perairan Waduk Cirata adalah sisa pakan dari kegiatan budidaya ikan dalam KJA dan aktivitas domestik masyarakat sekitar waduk Cirata. Bahan-bahan sintetik limbah organik tersusun oleh karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, fosfor, sulfur dan mineral lainnya. Limbah organik yang masuk ke dalam perairan dalam bentuk padatan akan langsung mengendap menuju dasar perairan, sedangkan bentuk lainnya berada di badan air baik di bagian yang aerob maupun anaerob. Limbah organik yang berda di badan air jika tidak dimanfaatkan oleh fauna perairan lain, seperti ikan, bentos dan lainnya, maka akan segera dimanfaatkan oleh mikroba, baik mikroba aerobik maupun anaerobik ataupun mikroba fakultatif.

Limbah organik yang ada di badan air aerobik akan dimanfaatkan dan diurai (dekomposisi) oleh mikroba aerobik. Semakin banyak limbah organik yang masuk dan tinggal pada lapisan aerobik maka semakin besar pula kebutuhan oksigen bagi mikroba yang mendekomposisinya. Jika keperluan oksigen bagi mikroba yang ada melebihi konsentrasi oksigen terlarut, maka oksigen bisa menjadi nol dan mikroba aerobpun musnah digantikan oleh mikroba anaerob dan fakultatif yang tidak memerlukan oksigen.
Sementara itu limbah organik yang masuk ke badan air yang anaerob akan dimanfaatkan dan diurai (dekomposisi) oleh mikroba anaerobik atau fakultatif dan dapat dikatakan bahwa aktivitas mikroba yang hidup di bagian badan air yang anaerob, selain menghasilkan sel-sel mikroba baru juga menghasilkan senyawa-senyawa CO2, NH3, H2S dan CH4 serta senyawa lain seperti amin dan komponen fosfor. H2S dan komponen fosfor merupakan senyawa yang mengeluarkan bau menyengat yang tidak sedap dan anyir. Selain itu telah disinyalir bahwa NH3 dan H2S hasil dekomposisi anaerob pada tingkat konsentrasi tertentu adalah beracun dan dapat membahayakan organisme lain termasuk manusia. H2S juga merupakan unsur utama yang menyebabkan korositvitas pada turbin pembangkit listrik.

Untuk dapat mengetahui kadar total organik, dapat dilihat dari kandungan COD dan BOD yang merupakan indeks oksigen yang dibutuhkan oleh organik dalam melakukan respirasi.
Chemical Oxigen Demad (COD) menggambarkan jumlah oksigen total yang diperlukan untuk mengoksidasi bahan organik secara kimiawi, dengan oksidator kalium dikromat (CaCr2), baik yang dapat didegradasi secara biologis (biodegradable) maupun yang sulit didegradasi secara biologis (non-biodegradable) menjadi CO2 dan H2O. Nilai COD pada perairan yang tidak tercemar biasanya kurang dari 10 mg/liter. Pada perairan waduk Cirata, terlihat bahwa COD sudah melebihi 10 mg/l yang mengindikasikan bahwa perairan waduk Cirata mengandung COD yang tinggi. Tetapi peningkatan COD perlu diwaspadai sebagai akibat dari masuknya beban pencemar yang berlebihan di waduk Cirata.

Selain COD, Biologichal Oxigen Demad (BOD) juga merupakan indikator lain pencemaran organik pada suatu perairan. Perairan dengan nilai BOD tinggi mengindikasikan bahwa air tersebut tercemar oleh bahan organik. Bahan organik akan distabilkan secara biologi dengan melibatkan mikroba melalui sistem oksidasi aerobik dan anaerobik.

Penyebab Hipertrofikasi
Setelah mengetahui parameter-parameter yang menyebabkan hipertrofikasi, maka perlu diketahui sumber-sumber penyebab hipertrofikasi pada waduk Cirata, antara lain :

1. Limbah Pertanian
Limbah pertanian Waduk Cirata berasal dari aktivitas pertanian dari tanah penduduk yang berada di pinggiran waduk, atau dari aktivitas pertanian di wilayah pasang surut pada tanah milik PT PJB. Sampah tersebut diletakkan di pinggiran waduk, sehingga ketika ada kenaikan air waduk, sampah tersebut terbawa mengotori waduk Cirata dan menjadi penyebab terjadinya hipertrofikasi.

2. Limbah Sisa Pakan KJA (Keramba Jaring Apung)
Kegiatan budidaya perikanan dengan teknik keramba jaring apung (KJA) yang
berlangsung di waduk Cirata merupakan kegiatan yang langsung berhubungan dengan perairan waduk, sehingga berdampak langsung terhadap perairan waduk yaitu penurunan kualitas perairan. Limbah yang dihasilkan oleh kegiatan KJA pada umunya berupa limbah organik berupa sisa pakan (pellet). Pakan ikan mengandung kadar unsur hara dan fosfat yang tinggi. Kurang lebih 5 % dari pakan ikan akan mengendap di perairan waduk dan hal tersebut menyebabkan terpacunya hipertrofikasi di perairan waduk. Jika satu hari ditebar 300 ton pakan ikan, maka sisa pakan yang menjadi limbah sekitar 15.000 kg setiap harinya dan ini dapat menambah beban pencemar dan hipertrofikasi di waduk Cirata.

3. Limbah Air Lindi TPA Sarimukti.
TPA Cigedig, desa Sarimukti juga merupakan penyumbang limbah organik (air lindi) ke waduk Cirata dikarenakan kurang memadainya pembuatan kolam lindi. TPA Sarimukti menampung sampah untuk daerah Kota Bandung, Kota Cimahi, dan Kabupaten Bandung Barat. TPA ini menghasilkan air lindi sampah yang masuk ke dalam air tanah dan air permukaan sehingga berbahaya juga bagi organisme yang hidup di darat dan mengancam kehidupan 40 ribu ton ikan di Waduk Cirata. Jarak TPA dengan Waduk Cirata yang tidak terlalu jauh menyebabkan rembesan air dari tumpukan sampah akan mengalir ke waduk karena posisi waduk lebih rendah dibanding TPA. Pada pemantaun triwulan 1 tahun 2010, stasiun Cimeta yang merupakan hilir dari TPA Sarimukti telah mengindikasikan pencemar organik yang sangat tinggi berasal dari TPA Sarimukti. Parameter tersebut antara lain kadar BOD, COD menunjukan angka yang tinggi, sehingga dapat dikatakan bahwa air lindi TPA Sarimukti merupakan salah satu pemicu hipertrofikasi waduk Cirata.

4. Limbah Domestik
Limbah domestik dapat berasal dari hulu waduk maupun dari dalam perairan Waduk Cirata. Karena hulu Waduk Cirata berasal dari sungai, maka salah satu material yang dibawa adalah limbah domestik aktivitas manusia yang terbuang ke sungai. Sedangkan limbah organik yang berasal dari dalam perairan waduk adalah sisa aktivitas domestik masyarakat yang tinggal di sekitar perairan waduk Cirata.
Peningkatan jumlah penduduk yang semakin tinggi di sekitar perairan
Waduk Cirata juga telah menyebabkan limbah sisa aktivitas domestik pada perairan waduk Cirata meningkat dan pastinya dapat mengganggu keseimbangan lingkungan perairan. Hal ini akan memberikan kontribusi pada laju penambahan zat hara dan limbah organik lainnya yang masuk ke badan air.

5. Limbah industri
Industri yang berada di kota Bandung berada pada hulu sungai Citarum, terutama pada daerah di sekitar Majalaya sampai Dayeuh Kolot yang merupakan sentra industri. Sentra industri tersebut bayak yang tidak menggunakan IPAL (Instalasi Pengelolaan Air Limbah) dan membuangnya pada aliran sungai Citarum yang pada akhirnya menyebabkan pencemaran perairan Citarum dan waduk Cirata meningkat.
Limbah organik dari industri, baik yang dapat diuraikan secara kimiawi oleh bakteri maupun yang sukar diuraikan dapat menyebabkan pertumbuhan alga secara berlebihan. Masuknya bahan pencemar tersebut ke badan perairan dapat menambah beban limbah organik penyebab hipertrofikasi serta mengubah kondisi ekologi perairan.

Dampak Hipertrofikasi
Setelah mengetahui parameter dan sumber-sumber penyebab hipertrofikasi, maka dapat dilihat beberapa dampak hipertrofikasi di perairan waduk Cirata antara lain:

1. Penurunan Oksigen Terlarut (DO)
Salah satu dampak hipertrofikasi adalah terjadinya penurunan konsentrasi oksigen terlarut. Hipertrofikasi ini jelaslah dapat mengganggu kehidupan organisme air yang lain yang ada di dalam waduk sehingga dampak yang lebih lanjut dan kompleks ialah dapat merusak dan mengganggu keseimbangan ekosistem perairan Waduk Cirata. Oksigen terlarut dalam perairan merupakan konsentrasi gas oksigen yang terlarut di dalam air yang berasal dari proses fotosintesa oleh fitoplankton atau tumbuhan air lainnya, serta difusi dari udara. Tumbuhan yang mengalami proses blooming akan membutuhkan kadar oksigen lebih banyak dari jumlah biasanya sehingga kadar oksigen dalam perairan itu akan berkurang. Dengan semakin banyaknya limbah organik, maka kebutuhan plankton dan mikroorganisme pengurai limbah organik untuk melakukan respirasi semakin besar dan menyebabkan suplai oksigen semakin sedikit.

2. Korosifitas Unit Pembangkit karena Meningkatnya H2S
Hipertrofikasi secara tidak langsung telah memberikan pengaruh buruk terhadap kelangsungan fungsi waduk Cirata, yang salah satunya adalah sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Listrik (PLTA), yaitu adanya proses korosi yang dipengaruhi oleh H2S. Beberapa instalasi pembangkit tenaga listrik tenaga air yang terbuat dari logam dan mudah diserang korosi adalah turbin, reaktor dan sistem pendinginan (air cooling). Apabila terjadi korosi pada instalasi ini, maka produk energi akan menurun.
Korosi adalah peristiwa memburuknya atau merusaknya logam yang terjadi ketika suatu material bereaksi dengan lingkungan atau dengan fluida yang dipindahkan atau dikandungnya. Logam struktural akan memburuk dengan adanya reaksi dengan kelembaban, gas dan polutan atmosfer, tetapi yang lebih utama dalam menyebabkan korosi adalah logam itu sendiri.

3. Penyuburan Alga
Meningkatnya unsur hara di waduk Cirata akan meningkatkan biomassa jenis organisme primer yang mengakibatkan melimpahnya alga yang biasa didominasi oleh blue green algae (alga biru-hijau) dan berkembangnya gulma air.
Jenis alga terutama ganggang hijau, sangat subur bila mendapatkan pupuk
nitrat. Tumbuhan ini dapat menutupi permukaan perairan, sehingga menghambat sinar matahari yang masuk ke dalam air. Hal ini dapat menyebabkan organisme atau tumbuhan air akan mati. Bakteri pembusuk akan menguraikan organisme yang mati, baik tanaman maupun hewan yang terdapat di dasar air. Proses pembusukan tersebut banyak menggunakan oksigen terlarut dalam air, sehingga kadar oksigen akan menurun secara drastis dan pada akhirnya kehidupan biologis di perairan waduk juga akan sangat berkurang.

Permasalahan lain dari ganggang jenis cyanobacteria (blue-green algae) yakni diketahui mengandung toksin sehingga membawa risiko kesehatan bagi manusia dan hewan. Blooming alga juga menyebabkan hilangnya nilai konservasi, estetika, rekreasional sehingga dibutuhkan biaya sosial dan ekonomi yang tidak sedikit untuk mengatasinya.

Hipertrofikasi juga merangsang pertumbuhan tanaman air lainnya, baik yang hidup di tepian (eceng gondok) maupun dalam badan air (hydrilla). Oleh karena itulah, maka di rawa-rawa dan waduk-waduk yang telah mengalami hipertrofikasi, tepiannya tumbuh dengan subur tanaman air seperti eceng gondok (Eichhornia crassipes), Hydrilla dan rumput air lainnya.

Pengendalian Hipertrofikasi Waduk Cirata Secara Biologis : Restocking Ikan
Pengendalian secara biologis adalah pengendalian dengan menggunakan mahluk hidup secara alami, misalnya ikan sebagai sarana pengendalian. Pengendalian secara biologis berarti pengrusakan atau penghambatan terhadap suatu organisme oleh organisme lain. Cara ini menarik karena merupakan cara mempergunakan alam untuk mengendalikan alam itu sendiri. Pada prinsipnya, pengendalian pertumbuhan adalah menjadi tujuan pengendalian, yakni dikendalikannya pertumbuhan hipertrofikasi sehingga tidak sampai merugikan.
Cara yang dilakukan sebagai pengendalian secara biologis adalah dengan restocking ikan-ikan penting ke parairan waduk Cirata. Beberapa jenis ikan pemakan tumbuhan (herbivore) dapat memakan alga atau fitoplankton sehingga kandungan-kandungan pencemar penyebab hipertrofikasi dapat dikendalikan. Sebagian ikan ada yang bersifat detritivora, yaitu ikan yang memakan bahan-bahan detritus yang bersumber dari bahan-bahan organik, dan ada pula ikan-ikan yang memakan partikel-partikel halus. Manfaat lain dari penanaman ikan-ikan tersebut adalah masyarakat dapat memanennya dari waduk sebagai sumber pendapatan tambahan.

Jenis ikan yang sangat efektif untuk pengendalian hipertrofikasi adalah ikan mola, silver carp (Hypophthalmicichthys molitrix). Ikan mola berasal dari China dan masuk ke Indonesia tahun 1969 dan ikan mola merupakan jenis ikan pemakan plankton sejati (fitoplankton feeder) dan mampu memanfaatkan sekitar 72% fitoplankton yang terkandung di perairan. Jenis ikan pemakan plankton lainnya yang mempunyai nilai ekonomis penting dan efektif dalam pengendalian blooming plankton adalah ikan bandeng (Chanos chanos), ikan nila (Oreochromis niloticus), nilem (Osteochillus hasselti) dan tawes (Puntius goneonotus).

NB : Buat teman yang mau penelitian lebih lanjut, bisa hubungi saya...
Jumat, 24 September 2010 By: ArtiHapsari

Global warming di waduk Cirata

Global Warming

Perubahan iklim merupakan situasi yang saat ini kita hadapi dan tidak dapat ditawar lagi kecuali dengan meredam lajunya. Yakni dengan memahami proses- proses yang terjadi di alam, wawasan kita dapat dibuka tentang bagaimana dan mengapa iklim itu berubah.

Dari itulah kita akan sadar bahwa secara alamiah iklim itu memang akan berubah meskipun tanpa campur tangan manusia. Tetapi hal tersebut dipercepat dengan adanya aktivitas manusia, berawal dari revolusi industri hingga kini, maka iklim berubah dengan drastis.

Mungkin semua orang tahu bahwa penyebab utama perubahan iklim adalah meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di udara yang menyebabkan temperatur di permukaan bumi meningkat.

Kita juga mungkin paham bahwa hutan kita adalah paru-paru dunia karena kemampuannya menyerap karbon dioksida (CO), sehingga kita berusaha untuk menjaga hutan agar tetap hijau dan menghijaukan area terbuka.

Namun, belum banyak yang paham bahwa perairan kita yang sangat luas itu juga memiliki potensi dalam mengatur kesetimbangan CO di atmosfer. Potensinya adalah dapat sebagai penyimpan dan atau penyumbang CO. Tetapi, kita belum tahu persis potensi yang mana yang kita miliki.

Waduk adalah ekosistem perairan yang menerima input materi dari ekosistem daratan, termasuk karbon. Apabila materi tersebut adalah makhluk hidup atau sisa dari makhluk hidup, suatu saat materi tersebut akan terdegradasi menghasilkan anorganik karbon yang salah satunya adalah CO.

Memang benar, material organik tadi dapat terbenam di dasar danau, tetapi hampir semua danau yang ada di Indonesia dapat mengalami pengadukan sempurna sehingga CO dan material lainnya di dasar itu mampu kembali ke permukaan. Adanya aktivitas fotosintesis-respirasi memengaruhi CO di permukaan, tetapi tidak cukup signifikan karena keduanya berada cukup seimbang. Lebih lanjut jika konsentrasi CO di lapisan permukaan air sangat tinggi dan jenuh, CO akan terlepas ke udara. Sehingga bisa dibayangkan, jika waduk Cirata mempunyai luas sebesar 6200 Ha, maka CO yang terlepas ke udara dan menjadi penyumbang emisi gas rumah kaca juga besar.

Waduk hanyalah salah satu bagian dari siklus karbon yang mungkin terlewatkan dalam pemikiran kita sebagai penyumbang emisi gas rumah kaca. Wajib dipahami bahwa untuk menurunkan emisi gas rumah kaca, haruslah ditelaah semua segi kehidupan, termasuk perilaku kehidupan sehari-hari karena manusia merupakan pemeran utama dalam beberapa siklus yang ada di muka bumi.

Sumbangsih waduk pada emisi gas rumah kaca di udara bertolak secara alamiah. Namun, pengelolaan waduk yang salah arah dapat menyebabkan waduk itu berperan sebagai penghasil emisi gas rumah kaca yang sangat potensial. Cukup banyak waduk di Indonesia yang mengalami tekanan lingkungan sehingga memiliki potensi melepas emisi gas rumah kaca dalam jumlah yang besar.

Material organik, seperti sisa aktivitas pertanian, pakan ikan, lumpur, dan pencemar lainnya sangat berpotensi untuk terdegradasi menjadi emisi gas rumah kaca. Memang, perlu ada penelitian lebih lanjut dan detail pada ekosistem ini agar peran masing-masing dapat lebih dipahami.

Dampak Global Warming Terhadap Waduk Cirata

Adapun kaitannya dengan perubahan ekosistem fauna di waduk Cirata, maka hal tersebut perlu dikaji lagi, karena pada hakikatnya perubahan iklim dapat mengubah rantai makanan di dalam waduk Cirata secara keseluruhan dan sumber daya perikanan pada khususnya. Berubahnya rantai makanan akan memberikan perubahan struktur populasi perikanan yang tidak dikehendaki. Fenomena ini sudah banyak teramati di Indonesia, antara lain ditandai dengan bergesernya musim ikan, dan berubahnya fishing ground kelompok ikan jenis tertentu.

Skenario yang tidak menyenangkan ini tidak hanya terbatas pada perikanan tangkap, tapi juga terhadap perikanan budidaya antara lain melalui pengaruh berbahaya kualitas air, peningkatan penyakit pest dan penyakit-penyakit lainnya. Sumberdaya waduk Cirata jika tidak diwaspadai dapat berada pada situasi yang kritis dan terancam.

Meningkatnya suhu permukaan air menyebabkan beberapa jenis ikan akan beradaptasi dengan mengubah kelaminnya menjadi jantan. Akibatnya, suatu kawasan tertentu akan didominasi ikan berjenis kelamin jantan. Hal itu tentu saja bisa mengancam perkembangbiakan ikan. Pada prinsipnya perubahan iklim akan menyebabkan biota yang sensitif terancam punah, sedangkan biota yang adaptif akan mempertahankan hidupnya dengan menyesuaikan diri terhadap lingkungannya
Sebuah studi populasi ikan di sungai-sungai, danau, Laut Baltik dan Laut Utara yang dilakukan oleh Dr. Martin Daufresne di Institut Riset Pertanian Publik dan Lingkungan Cemegref di Lyon, Prancis menemukan penyesuaian antara air yang memanas dan ukuran ikan yang menyusut.

Ia mengatakan bahwa bahkan plankton dan bakteria telah berkurang ukurannya karena air yang memanas, studi tersebut juga menemukan bahwa hewan-hewan air ini telah kehilangan setengah massa tubuh rata-rata mereka dalam 20 – 30 tahun terakhir, dengan spesies lebih kecil sekarang membentuk proporsi populasi ikan yang lebih besar. Dalam penelitian hewan darat, efek penyusutan yang sama telah teramati dalam domba Skotlandia. Dan ini pula yang harus diwaspadai pada waduk Cirata, meskipun harus ada penelitian yang lebih akurat.

Waduk Cirata Semakin Hangat.

Selain penelitian di atas, ternyata ada tren menarik di waduk Cirata, yaitu peningkatan suhu air waduk Cirata dalam 3 tahun terakhir ini. Hal ini mungkin tidak pernah terfikirkan karena biasanya penelitian terkonsentrasi pada degradasi kualitas air.

Dari grafik di atas dapat dilihat ada peningkatan suhu ekstrim dari tahun 2007 ke 2010 yakni sekitar 1,83 oC dar suhu 27,10 oC ke suhu 28,93 oC. Hal ini sebaiknya perlu diwaspadai terkait dengan banyaknya ekosistem yang hidup di waduk Cirata.

Meningkatnya suhu permukaan bumi akan mengakibatkan adanya perubahan iklim yang sangat ekstrim di bumi. Hal ini dapat mengakibatkan terganggunya hutan, perairan dan ekosistem lainnya, sehingga mengurangi kemampuannya untuk menyerap karbon dioksida di atmosfer. Pemanasan global mengakibatkan meningkatnya suhu , belum lagi ditambah dengan sedimentasi akibat erosi lahan, sehingga air mengembang dan terjadi kenaikan permukaan air yang mengakibatkan usia waduk semakin berkurang.

Menurut penelitian, efek rumah kaca telah meningkatkan suhu rata-rata bumi 1-5 °C. Bila kecenderungan peningkatan gas rumah kaca tetap seperti sekarang akan menyebabkan peningkatan pemanasan global antara 1,5-4,5 °C sekitar tahun 2030. Dengan meningkatnya konsentrasi gas CO2 di atmosfer, maka akan semakin banyak gelombang panas yang dipantulkan dari permukaan bumi diserap atmosfer. Hal ini akan mengakibatkan suhu permukaan bumi menjadi meningkat, termasuk pada perairan waduk Cirata yang semakin menghangat.

Dari pemantauan di waduk Cirata, akibat suhu waduk Cirata yang menghangat, maka menyebabkan meningkatnya uap di waduk Cirata. Penguapan di waduk cirata adlah sebesar 3 ml/m3. Jika volume waduk Cirata adalah sebesar 6 milyar m3, maka penguapan waduk Cirata adalah sebesar 18 juta liter/hari. Hal ini menyebabkan penguapan di waduk Cirata sangat besar yang mnyebabkan hujan ekstrem dan mempengaruhi iklim yang ekstrem di sekitarnya.

Namun, peran serta seluruh pihak, baik dari masyarakat, pemerhati maupun pemerintah sangatlah dibutuhkan dalam menyikapi isu perubahan iklim ini,terutama di waduk Cirata. Kita bisa melakukan upaya pengendalian supaya unsur-unsur karbon penyumbang emisi gas rumah kaca dikurangi, seperti melakukan penghijauan, mengurangi jumlah jaring apung, dan mengurangi masuknya limbah dari pertanian maupun industri. Lakukan apa yang bisa kita lakukan, sekecil apapun.

Toex teman-teman yang ingin penelitian lebih lanjut, mangga, call me

Rabu, 07 April 2010 0 komentar By: ArtiHapsari

Degradasi Lingkungan Waduk Cirata

ABSTRAK


Waduk Cirata merupakan salah satu waduk kaskade yang terdapat di daerah aliran sungai (DAS) Citarum Jawa barat yang pada saat pembangunannya ditujukan sebagai pembangkit tenaga listrik. Waduk Cirata terbentuk dari adanya genangan air seluas 62 km2 yang membendung Sungai Citarum. Genangan waduk tersebut tersebar di 3 (tiga) Kabupaten, yaitu Kabupaten Cianjur, Purwakarta dan Bandung. Waduk Cirata mempunyai fungsi utama sebagai pembangkit energi listrik dan fungsi tambahan antara lain untuk budi daya ikan jaring terapung, lalu lintas air, sebagai reservoir atau penyediaan air, pertanian, dan pengembangan ekonomi lainnya.

Sejak pertama kali dioperasikan pada tahun 1988, telah terjadi perubahan pola hidup masyarakat yang pada awalnya adalah sebagai petani garapan menjadi bergantung pada pemanfaatan waduk cirata. Perekonomian masyarakat berkembang dengan alasan usaha baru di waduk Cirata seperti budidaya ikan jaring apung yang menguntungkan sehingga banyak pendatang yang tertarik untuk melakukan usaha di waduk Cirata dan sekitarnya. Keberadaan waduk Cirata secara ekonomi telah memberikan dampak positif terhadap berbagai kalangan baik pemerintah, masyarakat dan pengusaha.
Namun, pemanfaatan waduk Cirata yang tidak terkendali dapat menciptakan dampak negatif bagi ekosistem yang ada di dalam waduk maupun masyarakat sekitarnya, antara lain dampak lingkungan yang semakin menurun sejak pemanfaatan waduk tersebut karena beban pencemar yang terlalu besar. Penyebab degradasi kualitas lingkungan waduk Cirata antara lain budidaya keramba jarring apung (KJA) yang tidak terkendali, limbah industi di hulu sungai Citarum, sampah yang mengotori waduk dan air lindi dari TPA Sarimukti. Akibat yang ditimbulkan dari faktor-faktor tersebut adalah menurunnya kualitas air waduk Cirata, adanya logam berat karena air limbah industri dan juga korosifitas pada turbin pembangkit listrik. Pengelolaan yang kurang komperhensif di waduk Cirata juga menjadi penyebab pengelolaan waduk Cirata kurang maksimal. Untuk itu diperlukan upaya pelestarian yang komperhensif dari seluruh stakeholder yang berkepentingan dengan waduk Cirata guna mengembalikan waduk Cirata menjadi waduk yang lestari.